Pemberiannutrisi pada sel saraf terjadi melalui A. Dendrit B. Neurit C. Sinapsis D. Sel schwann E. Nodus ranvier . Latihan Soal Biologi Cara Menggunakan : Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia.
Meneruskanimpuls dari badan sel saraf ke sel saraf lain atau ke sel otot atau ke sel kelenjar. Pada bonggol sinaptik terjadi proses sinapsis, yaitu komunikasi antara sel saraf satu dengan yang lain atau sel saraf dengan sel otot dan sel kelenjar menggunakan neurotransmitter. 4. Myelin: Selubung lemak berlapislapis, dihasilkan oleh sel Schwann.
12 SUDIRMAN. HORMON YANG TERKAIT DALAM KEBUTUHAN NUTRISI. A. Hormon Insulin. 1. Pengertian. Insulin adalah hormon yang mengatur pusat untuk metabolisme karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Insulin menyebabkan sel-sel di hati, otot, dan jaringan lemak untuk mengambil glukosa dari darah, menyimpannya sebagai glikogen di hati dan otot. Insulin
Seratjuga membantu mendorong makanan melalui usus, yang membantu mencegah sembelit. Makanan tinggi serat ialahbuah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, kacang polong, biji-bijian, dan gandum makanan (seperti roti gandum, oatmeal, dan beras merah). Meskipun tubuh kita memerlukan glukosa, akan tetapi kita perlu menjaganya agar tetap seimbang.
Pemberiannutrisi pada sel saraf terjadi melalui A. Dendrit B. Neurit C. Sinapsis D. Sel schwann E. Nodus ranvier . Ujian Semester 2 (UAS / UKK) Biologi SMA Kelas 11
KunciJawaban dan Pembahasan Soal Biologi SMA XI IPA Semester 2. 1. Asfiksi adalah salah satu gangguan pernapasan pada manusia. Hal ini disebabkan oleh . 2. Antigen asing disintesis oleh . 3. Hati merupakan salah satu alat ekskresi yang menghasilkan zat sisa . 4.
axYbf9. Nama Andini Puspo Sari Kelas/ no. absen XI MIPA 2/5 SOAL LATIHAN SISTEM KOORDINASI DAN PEMBAHASANNYA Delete this 22-45 1. Indera pada ikan yang berfungsi untuk mengetahui perubahan tekanan air adalah A. Membrane niktitans B. Omatidium C. Gurat sisi D. Bintik mata E. Oseli Jawaban dan Penjelasan C indera ini berfungsi untuk mengetahui perubahan tekanan air, sehingga ikan mengetahui kedudukannya dalam air 2. Bagian otak burung yang berkembang sangat baik sehingga burung memiliki keseimbangan yang cukup baik adalah A. Otak besar B. Otak Kecil C. Otak Tengah D. Sumsum lanjutan E. Sumsum Tulang belakang Jawaban dan Penjelasan B permukaan otak kecil berlipat lipat sehingga permukaanya semakin luas, hal ini menyebabkan burung memiliki keseimbangan yang cukup baik ________________________________________ 3. Bola mata mempunyai … lapisan dinding yang mengelilingi bola mata. A. 2 B. 3 C. 4 D. 5 E. 6 Bola mata mempunyai 3 lapisan dinding yaitu lapisan luar sklera dan kornea, lapisan tengah koroidea dan iris, dan lapisan dalam retina. Jadi, jawaban yang tepat adalah B 3. ________________________________________ 4. Apabila kita mencium masakan yang sedap, air liur terangsang mau keluar. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara indera A. Perasa dan pengecap B. Perasa dan peraba C. Pembau dan perasa D. Pembau dan pengecap E. Pengelihat dan pembau Jawaban dan Penjelasan D antara hidung dan lidah memiliki keterkaitan satu sama lain. Lidah berhubungan dengan kelenjar ludah, apabila kita mencium bau sedap secara sadar maupun tidak kita akan mengeluarkan air liur 5. Perhatikan gambar dibawah ini Lidah manusia beserta bagian-bagiannya. Bagian yang bernomor 1,2, dan 3 dapat merasakan A. Manis, asin, dan asam B. Manis,asin, dan pahit C. Manis, asam, dan pahit D. Asam, manis, dan pahit E. Pahit, asam, dan manis Jawaban dan penjelasan B Manis pada ujung lidah, asin pada ujung sampai tepi lidah, dan pahit pada pangkal lidah 6. Fungsi pupil pada mata adalah A. Melindungi retina B. Mengatur cahaya yang masuk C. Memfokuskan bayangan benda D. Tempat jatuhnya bayangan E. Memberi warna mata Jawaban dan penjelasan B jumlah cahaya yang masuk ke mata diatur oleh pupil 7. Adrenalin adalah hormon yang berfungsi untuk … A. mengatur metabolism B. mempengaruhi kerja hormon lainnya C. merangsang kerja usus D. mengatur metabolisme senyawa fosfat E. menaikkan tekanan darah Jawaban dan penjelasan E hormone adrenalin dapat menyebabkan meningkatnya denyut jantung,kecepatan pernafasan, dan tekanan darah. 8. Bagian mata yang berfungsi untuk mensuplai nutrisi dan O2 bagi retina adalah … A. Sclera B. Kornea C. Iris D. Lensa E. Koroid Jawaban dan penjelasan E koroid berfungsi memberi zat makanan pada retina. Zat makanan berupa nutrisi dan O2 9. Pemberian nutrisi pa da sel saraf terjadi melalui … A. Dendrit B. Neurit C. Sinapsis D. Sel schwann E. Nodus ranvier
Latihan Soal Online - Latihan Soal SD - Latihan Soal SMP - Latihan Soal SMA Kategori Semua Soal ★ SMA Kelas 11 / Ujian Semester 2 UAS / UKK Biologi SMA Kelas 11Pemberian nutrisi pada sel saraf terjadi melalui … A. Dendrit B. Neurit C. Sinapsis D. Sel schwann E. Nodus ranvierPilih jawaban kamu A B C D E Latihan Soal SD Kelas 1Latihan Soal SD Kelas 2Latihan Soal SD Kelas 3Latihan Soal SD Kelas 4Latihan Soal SD Kelas 5Latihan Soal SD Kelas 6Latihan Soal SMP Kelas 7Latihan Soal SMP Kelas 8Latihan Soal SMP Kelas 9Latihan Soal SMA Kelas 10Latihan Soal SMA Kelas 11Latihan Soal SMA Kelas 12Preview soal lainnya Keberagaman Masyarakat Indonesia - PPKn Semester 2 Genap SMP Kelas 9 › Lihat soalSemboyan Bhineka Tunggal Ika tertulis pada …A. Dasar negara IndonesiaB. UUD 1945C. Pembukaan UUD 1945D. Lambang negara Indonesia IPS Tema 2 Subtema 3 SD Kelas 5 › Lihat soalManusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena manusia merupakan ….A. makhluk gaibB. makhluk individuC. makhluk sosialD. makhluk Tuhan Materi Latihan Soal LainnyaUH IPS Tema 8 SD Kelas 5Remidi PAS Semester 1 Ganjil Penjaskes PJOK SMP Kelas 8USBN IPS SMP Kelas 9 Tahun Pelajaran 2020/2021PTS Tema 1 Subtema 2 SD Kelas 5UH PAI SD Kelas 3PTS PPKn SMP Kelas 9 Semester GasalKuis 2 PAI SMA Kelas 10PPKn Tema 1 Subtema 1 SD Kelas 6PTS Semester 2 Genap BDP SMK Kelas 11Mapel IPA SD Kelas 5Cara Menggunakan Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia. Tentang Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia.
- Perkembangan otak manusia dimulai sejak awal pembuahan dan terus berkembang sampai lahir dan hampir sempurna pada usia dewasa muda. Sebelum lahir, otak memproduksi sel saraf neuron sejak alur saraf dibentuk pada minggu ke-3 dan berkembang cepat seiring usia dalam kandungan, rata-rata pertumbuhan sel otak sekitar per menit sehingga pada saat lahir sudah terbentuk 100 milyar sel saraf. Antara satu sel saraf dengan sel-sel saraf lainnya dihubungkan oleh sinaps dan setelah lahir pembentukan sinaps ini berjalan sangat cepat dan pada puncak pembuatannya maka dalam satu detik bisa terbentuk 2 juta sinaps. Hal yang mencengangkan adalah satu sel saraf bisa membuat hubungan sampai dengan sel-sel saraf lainnya. Ini dapat dianalogikan seperti tersedianya jalan tol untuk membawa barang antara dua kota atau tersedianya sambutan telepon untuk menyalurkan informasi antara satu rumah ke rumah-rumah lainnya. Sel-sel saraf yang telah ada membentuk cabang utama yang disebut akson. Selain itu, sel saraf juga membentuk percabangan yang lebih kecil lagi. Ini disebut dendrit. Pembentukan dendrit-dendrit amat cepat dan masif. Fungsi transmisi bioelektrik dari sel saraf disempurnakan dengan dibentuknya mielin yang membungkus akson. Pada periode ini juga terjadi percabangan-percabangan dendrit yang sangat rimbun wiring. Sejalan dengan dibentuknya dendrit dalam jumlah yang luar biasa tersebut, pada periode ini terjadi juga pembentukan sinaps berupa hubungan antara dua sel saraf yang dibentuk oleh ujung dari akson satu sel saraf yang menempel ke dendrit dari sel yang lain. Di pertemuan itu ada celah antara ujung dari akson dan ujung dari dendrit yang disebut dengan sinaps LeDoux, J, 2002. Bila dua sel saraf yang telah terhubung melalui sinaps mendapat rangsangan maka kedua sel saraf tersebut secara elektrik aktif. Dan kalau rangsangan ini terjadi berulang-ulang maka ikatan antara kedua sel saraf ini akan menjadi semakin kuat cells that fire together wire together. Untuk menguatkan hubungan antara dua sel saraf agar sel saraf tetap aktif dan kuat diperlukan stimulasi sensori-motorik sehingga menghasilkan hubungan elektrik antara kedua sel saraf tersebut. Salah satu keistimewaan sel saraf adalah setiap menerima rangsangan atau stimulus baru sel saraf akan melahirkan sambungan baru atau memperkuat sambungan yang sudah ada. Namun, bila dua sel saraf yang terhubungkan dengan sinaps tidak mendapatkan rangsangan maka sinaps-sinaps tersebut akan mati. Dengan demikian sangat penting untuk memastikan agar sel-sel saraf dan sinaps-sinaps tersebut menerima rangsangan sehingga berkembang dan tidak mati karena tidak dirangsang use it or lose it. Rangsangan pada masa kanak-kanak juga merupakan hal sensitif dan kritikal karena jumlah sinaps yang terbentuk dan aktif merupakan penentu kemampuan literasi, perilaku, dan kesehatan. Kebutuhan gizi buat pertumbuhan dan perkembangan dibagi atas dua bagian yaitu kebutuhan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak dan kebutuhan zat gizi mikro yaitu vitamin dan zat gizi makro pada struktur anatomi otak bekerja melalui proses pembelahan sel-sel saraf yang akan menentukan jumlah dari sel-sel saraf dan melalui proses pertumbuhannya yang akan menentukan ukuran sel saraf serta melalui proses perkembangan sel-sel saraf menuju terbentuknya sel saraf dengan komponen yang lengkap akson, dendrit, sinaps, dan komponen lain. Dalam proses pembelahan, pertumbuhan, dan perkembangan sel-sel saraf ini dibutuhkan energi, protein, dan lemak yang cukup. Dalam keseluruhan proses pertumbuhan dan perkembangan otak maka protein-energi menjadi zat gizi makro yang sangat dibutuhkan. Kekurangan asupan protein-energi pada ibu hamil muda di bawah 24 minggu, akan menyebabkan jumlah sel-sel otak berkurang, sedangkan kekurangan asupan pada protein-energi pada akhir kehamilan akan menyebabkan ukuran sel saraf menjadi kecil. Kekurangan asupan protein-energi yang berat pada ibu hamil dapat menurunkan berat otak anak sampai 25 persen Jansen E, 2006. Zat gizi mikro yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan otak adalah iodium, asam folat, zat besi, seng, tembaga, vitamin D, vitamin A, vitamin E, vitamin B B1, B6, B12, cholin, dan vitamin C. Iodium adalah zat gizi mikro yang paling penting dalam mencegah gangguan otak yang dapat menimbulkan menurunnya kemampuan intelektual, melambatnya kemampuan psikomotor dan menyebabkan retardasi mental. Iodium berperan dalam membentuk hormon tiroid yang berfungsi untuk diferensiasi sel saraf, migrasi sel saraf dan pembentukan jaringan antar sel saraf serta dalam pembentukan sinaps. Asam folat berfungsi untuk pembentukan tabung saraf dan zat besi dibutuhkan untuk pembentukan mielin serta mendukung metabolisme energi di sel saraf. Adapun vitamin dan mineral lainnya diperlukan untuk membantu pembentukan neurotransmitter, untuk pembentukan dan pengembangan struktur sel saraf dan untuk memproteksi sel saraf dari berbagai ancaman. Mengenal stunting Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi kronik serta karena terjadinya infeksi yang berulang terutama pada 1000 hari pertama kehidupan HPK. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2018, di Indonesia terdapat 30,8 persen anak mengalami stunting, itu berarti 3 dari setiap 10 anak Indonesia mengalami stunting. Kalau tidak diintervensi dengan kecukupan gizi yang memadai dan stimulasi yang beragam serta efektif, maka anak stunting akan kehilangan masa depannya karena pertumbuhan otaknya terganggu yang berdampak pada kecerdasan, pertumbuhan fisiknya tertinggal yang berdampak pada rendahnya produktivitas dan daya tahan terhadap penyakit, serta pada usia dewasa akan lebih rentan untuk diserang oleh penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan penyakit kencing manis. Perhatian untuk pencegahan stunting harus sudah dimulai sejak dari kecukupan gizi remaja dan calon pengantin, pola makan ibu semasa kehamilan, memastikan bayi baru lahir mendapat susu jolong pada 1 jam pertama sesudah kelahiran dan hanya memberikan ASI secara ekslusif selama 6 bulan serta memberikan makanan pendamping ASI yg sesuai sampai umur dua tahun, sambil meneruskan pemberian ASI, dan dilanjutkan dengan memberikan gizi seimbang pada umur berikutnya. Selain itu pemberian rangsangan atau stimulasi pada anak usia dini dengan bermain, berinteraksi dan berkomunikasi juga sangat berpengaruh pada kecerdasan anak. Kita bersyukur pemerintah, mulai dari Presiden Joko Widodo beserta kabinetnya, gubernur, bupati/walikota, dan camat sampai kepala desa beserta jajarannya, menunjukkan komitmen yang tinggi untuk mencegah stunting baru dan menanggulangi stunting yang sudah ada dengan menjadikan program stunting adalah proritas nasional didukung dengan pendanaan yang sangat memadai. Tapi itu belum cukup. Mengingat penyebab stunting sangat komplek dan memerlukan kerjasama lintas sektor dan lintas jenjang pemerintahan serta lintas pelaku, maka partisipasi dari organisasi internasional dan pihak swasta seperti Tanoto Foundation dibutuhkan sebagai katalisator untuk membantu pemerintah pusat, daerah, dan juga masyarakat supaya semua anak mendapatkan hak mereka untuk bisa tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam rangka menyambut Hari Gizi Nasional 2020, mari kita gelorakan semangat “penanggulangan stunting itu penting” melalui penyadaran akan pentingnya gizi dan stimulasi guna menciptakan generasi muda cerdas yang bisa memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan dan kejayaan bangsa. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Stunting merupakan masalah kesehatan utama yang dapat menghambat masa depan bangsa. Hal tersebut terindikasi dari tingginya prevalensi stunting serta dampak buruk yang ditimbulkan. Tujuan review ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor pemberian nutrisi pada masa golden age yang menyebabkan kejadian stunting pada balita di negara berkembang termasuk Indonesia. Pencarian secara sistematik dari literature 2015-2020 menggunakan Google Scholar, Proquest, Pubmed, Taylor and Francis, Plos One. Kata kunci pencarian pemberian nutrisi, masa golden age, balita, stunting, negara berkembang. Peneliti memperoleh 28 artikel final yang dianalisis sesuai kriteria. Hasil menggambarkan faktor penyebab kejadian stunting terjadi sejak kehamilan akibat kekurangan nutrisi pada masa tersebut, inisiasi menyusui dini kurang dari 1 jam kelahiran maupun tidak sama sekali, pemberian ASI terhenti Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1764 Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52, 2021 Volume 5 Issue 2 2021 Pages 1764-1776 Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini ISSN 2549-8959 Online 2356-1327 Print Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang Meri Anggryni1, Wiwi Mardiah2, Yanti Hermayanti3, Windy Rakhmawati4, Gusgus Graha Ramdhanie5, Henny Suzana Mediani6 Keperawatan Anak, Universitas Padjadjaran DOI Abstrak Stunting merupakan masalah kesehatan utama yang dapat menghambat masa depan bangsa. Hal tersebut terindikasi dari tingginya prevalensi stunting serta dampak buruk yang ditimbulkan. Tujuan review ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor pemberian nutrisi pada masa golden age yang menyebabkan kejadian stunting pada balita di negara berkembang termasuk Indonesia. Pencarian secara sistematik dari literature 2015-2020 menggunakan Google Scholar, Proquest, Pubmed, Taylor and Francis, Plos One. Kata kunci pencarian pemberian nutrisi, masa golden age, balita, stunting, negara berkembang. Peneliti memperoleh 28 artikel final yang dianalisis sesuai kriteria. Hasil menggambarkan faktor penyebab kejadian stunting terjadi sejak kehamilan akibat kekurangan nutrisi pada masa tersebut, inisiasi menyusui dini kurang dari 1 jam kelahiran maupun tidak sama sekali, pemberian ASI terhenti 12 bulan, dan makanan yang diberikan tidak bervariasi dengan frekuensi dan tekstur yang tidak sesuai usia. Kata Kunci balita; indonesia; masa golden age; negara berkembang; pemberian nutrisi; stunting Abstrak Stunting is a major health problem that can hinder the future of the nation. This is indicated by prevalence of stunting and its adverse effects. The purpose of this review is to identify the nutritional factors during the golden age that cause stunting in children under five in developing countries, including Indonesia. Systematic search of the 2015-2020 literature using Google Scholar, Proquest, Pubmed, Taylor and Francis, Plos One. Keyword search nutrition, golden age, toddler, stunting, developing countries. The researcher obtained 28 final articles which were analyzed according to the criteria. The results describe the factors that cause stunting occurring since pregnancy due to nutritional deficiencies at that time, early initiation of breastfeeding less than 1 hour of birth or not , stopping breastfeeding 12 months, and the food given did not vary with frequency and texture that was not age-appropriate Keywords developing countries; golden age; nutrition practice; stunting; toddlers. Copyright c 2021 Meri Anggryni, Wiwi Mardiah, Yanti Hermayanti,Windy Rakhmawati, Gusgus Graha Ramdhanie, Henny Suzana Mediani Corresponding author Email Address Bandung, Indonesia Received 14 December 2020, Accepted 31 December 2020, Published 9 Januari 2021 Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52 2021 1765 PENDAHULUAN Stunting merupakan masalah kesehatan utama yang dapat menghambat masa depan bangsa. Hal tersebut diindikasikan berdasarkan standar WHO, yakni 20% atau seperlima dari jumlah total balita. Berdasarkan prevalensi secara global, terdapat sebanyak 22,9% atau 154,8 juta anak balita dengan kasus tersebut dan menjadi 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di tahun 2017. Kondisi tersebut terpusat di negara miskin 35,2% dan negara berkembang 22,4%, yang tersebar di Asia dengan prevalensi 56% dan Afrika 39%. Kondisi demikian kebanyakan ditemukan di negara berkembang dari kedua benua, dimana dari 88 negara dengan kasus tertinggi, empat diataranya merupakan negara berkembang, yakni India 48%, Pakistan 42%, Nigeria 41% dan Indonesia 37% tahun 2007 [36,8%], tahun 2010[ 35,6%], tahun 2013 [37,2 %] dan tahun 2018 [30,8%] United Nations Children’s Fund [UNICEF], World Health Organitation [WHO], World Bank Group [WBG], 2018; Riset kesehatan dasar [Riskesdas], 2013-2018. Kondisi ini tidak dapat diabaikan. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kesadaran pentingnya penanganan masalah ini, masyarakat dan pemerintah perlu mengetahui dampak yang ditimbulkan kondisi tersebut. Selain prevalensi tersebut, dampak akibat stunting juga dapat menghambat masa depan bangsa. Pada dampak jangka pendek, anak dapat mengalami gangguan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang, dapat menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, risiko tinggi munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke dan disabilitas pada usia tua, meningkatkan risiko penyakit dan kematian perinatal-neonatal, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif dan akan menghasilkan rendahnya kualitas sumber daya manusia SDM yang berakibat pada rendahnya produktifitas ekonomi. Apriluana & Fikawati, 2018; Anugraheni & Kartasurya, 2012; Hossain et al., 2017; Kemenkes, 2018; Dewey & Begum, 2011; De Onis et al., 2012; Mediani, 2020; Kemenkes RI, 2016; Izwardy, 2019, Helmyati, 2019; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional [Bapennas], 2018. Sehingga, diperlukan upaya penanganan yang serius dari berbagai pihak, untuk dapat mencegah dan mengurangi dampak yang dialami balita dengan kondisi tersebut. Sampai saat ini, pemerintah masih berupaya dalam penurunan stunting. Dimulai dari penetapan tujuan pembangunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB yang dikenal dengan The Sustainable Development Goals SDG’s yang salah satu tujuannya berupa penurunan stunting dan wasting pada balita di seluruh dunia, serta merupakan target internasional tahun 2030 United Nation Development Programme [UNDP], 2018 Sebagai bentuk realisasi, WHO 2014 dan UNICEF 2013 membuat kerangka kerja yang mengelompokkan faktor-faktor risiko kedalam tiga kelompok yakni; 1 faktor distal meliputi, politik dan ekonomi, pelayanan kesehatan, pendidikan, sosial budaya, sistem pertanian dan makanan, serta air, sanitasi dan lingkungan; 2 intermediate factors yaitu, faktor rumah tangga yang meliputi, jumlah dan kualitas makanan yang tidak adekuat, sumber daya yang rendah, ukuran dan struktur keluarga, praktik yang tidak memadai, perawatan kesehatan yang tidak memadai, layanan air dan sanitasi yang tidak memadai, 3 faktor proksimal meliputi pemberian nutrisi, faktor ibu dan lingkungan, faktor anak, dan faktor infeksi. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, dapat dilakukan melalui faktor-faktor risiko langsung penyebab stunting. Namun untuk itu, dibutuhkan intervensi yang terstruktur untuk merealisasikan upaya tersebut. Sebagai bentuk keseriusan dalam pencegahan dan penanganan stunting, pemerintah membentuk dua intervensi gizi, yakni intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif TNP2K, 2017; Trihono, 2015. Intervensi gizi spesifik ditunjukkan kepada ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia 0-23 bulan. Intervensi ini merujuk pada intervensi yang langsung menangani faktor penentu gizi janin serta gizi anak, mulai dari pemenuhan nutrisi selama kehamilan hingga pemberian makanan tambahan International Food Policy Research Sience Review [IFPRI], 2016. Sedangkan, intervensi gizi sensitif ditunjukkan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sehingga, perawat sebagai ujung tombok Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI 1766 Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52, 2021 kesehatan dapat membantu percepatan penanganan kondisi tersebut dengan menyukseskan program intervensi gizi spesifik khususnya pemberian nutrisi pada masa 1000 hari pertama kehidupan Masa golden age. Namun untuk itu, perawat perlu mengetahui faktor-faktor pemberian nutrisi pada masa golden age secara komprehensif. Berdasarkan literatur, stunting dapat terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan, mulai dari 270 hari janin didalam kandungan sampai 720 hari pertama kelahiran Schmidt, 2014; Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI], 2015. Pada masa kehamilan, pemberian nutrisi pada janin bergantung sepenuhnya pada kecukupan gizi ibu hamil. Kondisi tersebut dinilai dari status gizi ibu hamil, yang diukur menggunakan lingkar lengan atas LILA. Pengukuran tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah ibu mengalami kekurangan gizi, khususnya kekurangan energi kronis Ferial, 2012. Menurut data Riset Kesehatan Dasar RISKESDAS Indonesia tahun 2013-2018, terdapat 24,2% Ibu hamil di tahun 2013 mengalami kekurangan energi kronis dan menjadi 17,3% pada 2018. Hal ini cukup mengkhawatirkan, mengingat KEK pada ibu hamil dapat mengakibatkan janin didalam kandungan mengalami kekurangan asupan nutrisi diawal kehidupan yang berdampak pada pertumbuhan janin. Pertumbuhan janin didalam kandungan melalui tiga tahapan yang terbagi kedalam tiga trimester. Pada trimester pertama, pertumbuhan janin masih lambat, peningkatan kebutuhan zat gizi masih relatif kecil. Pada tahap ini, ibu hamil memasuki masa anabolisme yaitu masa untuk menyimpan zat gizi sebanyak-banyaknya dari makanan yang dikonsumsi setiap hari untuk cadangan trimester berikutnya Damayanti et al, 2017; Kristiyanasari, 2010. Untuk itu, penting memperhatikan kandungan makanan yang dikonsumsi ibu selama fase ini. Demikian pula pada trimester kedua. Pada tahap ini, janin mulai tumbuh pesat dibandingkan dengan trimester sebelumnya. Kecepatan pertumbuhan mencapai 10 gram per hari, susunan saraf otak berkembang sampai 90%, lengan, tangan, kaki, jari dan telinga mulai terbentuk, denyut jantung janin mulai terdengar, serta penyimpanan lemak sebagai cadangan pembentuk Air Susu Ibu ASI dimulai Marmi, 2013; Damayanti et al, 2017; Kristiyanasari, 2010; Almatsier, 2011. Pada tahapan ini, terjadi peningkatan kebutuhan energi untuk metabolisme tubuh janin. Sehingga, ibu dianjurkan untuk meningkatkan asupan gizi dibandingkan sebelumnya. Begitupun pada trimester ketiga. Pada masa ini, kebutuhan asupan nutrisi dari simpanan cadangan energi ibu selama tahap sebelumnya semakin meningkat. Karena pada tahap ini, janin tumbuh menjadi dua kali panjang sebelumnya dan berat badan bertambah kurang lebih lima kali dari berat semula Damayanti et al, 2017; Kristiyanasari, 2010. Untuk itu, status gizi ibu di trimester sebelumnya harus baik, dan didukung dengan memaksimalkan kebutuhan asupan gizi di trimester ini. Setelah melalui ketiga tahapan tersebut, janin akan keluar dari rahim ibu melalui proses persalinan. Sesaat setelah proses tersebut, bayi harus segera diberikan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Proses pemberian nutrisi tersebut diberikan melalui pemberian Inisiasi Menyusui Dini IMD, yakni pemberian air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah lahir. Dalam proses tersebut, bayi akan melakukan gerakan menghisap yang dapat merangsang hormon oksitoksin mengencangkan otot halus pada sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu IDAI, 2015. Untuk itu, pemberian inisiasi menyusui dini harus diberikan dan tidak boleh tertunda. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013-2018, pemberian nutrisi segera setelah lahir pada anak di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari rata-rata bayi yang memperoleh inisiasi menyusui dini sesuai rekomendasi WHO yakni ≥1 jam setelah lahir, hanya sebanyak 15,9%. Padahal, dengan pemberian IMD bayi dapat memperoleh kolestrum, yakni ASI yang kaya akan daya tahan tubuh, antibodi terhadap infeksi, pertumbuhan usus dan asupan gizi yang penting untuk pertumbuhan anak Permadi et al., 2017. Serta, dapat menstimulus ASI keluar dengan baik, dan membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif Apriluana & Fikawati, 2018 Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52 2021 1767 Memasuki usia 0-6 bulan, pemberian nutrisi sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif. Indikasi eksklusif jika bayi hanya diberikan ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain, baik berupa air putih, jus ataupun susu, kecuali obat, vitamin dan mineral Millenium challenge count [MAC] Indonesia, 2013; IDAI, 2015. Berdasarkan literature, pemberian ASI eksklusif dapat memenuhi kebutuhan asupan gizi bayi selama 6 bulan pertama, sampai mencapai tumbuh kembang yang optimal IDAI, 2015. Sehingga, pemenuhan nutrisi pada masa ini cukup hanya dengan ASI eksklusif. Namun, hal tersebut sepertinya belum dianggap penting oleh sebagian besar masyarakat. Hal ini terlihat dari data Riskesdas tahun 2013-2018. Dimana, hanya 21,2% bayi pada tahun 2013 yang memperoleh ASI eksklusif, dan pada tahun 2018 menjadi 37,3%. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan merugikan bayi dan keluarga. Untuk itu, diperlukan upaya dalam meningkatkan hal tersebut. Selanjutnya, pemberian nutrisi dengan ASI pada anak usia 6-12 hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi sebanyak 60%, dan 40% nya harus dipenuhi dengan makanan pendamping ASI MP-ASI. Makanan tersebut membantu bayi memperoleh energi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangannya Mufida, 2015. Pemberian makanan tambahan harus dilakukan dengan sesuai ketentuan yang ada, jika pemberian tidak tepat anak dapat mengalami kekurangan nutrisi. Pentingnya hal tersebut, sepertinya belum diperhatikan oleh masyarakat di negara berkembang. Hal ini terlihat dari hasil Riskesdas tahun 2013, terdapat 79,8% anak di Indonesia diberikan makanan tambahan terlalu dini pada usia 0-5 bulan, dan menjadi 42,3% pada tahun 2018. Hal ini tidak dapat dibiarkan, karena dapat mengakibatkan anak kekurangan asupan gizi pada anak di usia ini, yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dimasa depan. Untuk itu, pemberian makanan harus dilakukan tepat waktu dan diberikan dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan anak. Berdasarkan data pemberian nutrisi tersebut, diketahui pentingnya pemberian nutrisi di tiap tumbuh kembang anak selama masa golden age. Serta, rendahnya pemberian nutrisi pada masa golden age di Indonesia dan Negara Berkembang. Hal ini dapat menjadi indikasi tingginya prevalensi kejadian stunting pada balita di negara tersebut. Namun untuk dapat memastikan hal tersebut, dibutuhkan penelitian secara komprehensif pada faktor-faktor pemberian nutrisi dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian tentang pemberian nutrisi yang telah dilakukan sejauh ini berupa pemberian nutrisi pada masa tertentu atau terpisah, yakni pemberian nutrisi pada ibu hamil saja, pemberian IMD sampai pemberian ASI eksklusif, pemberian ASI eksklusif dan pemberian MP-ASI, atau pemberian IMD sampai pemberian MP-ASI Kismul et al., 2017; Fitri & Ernita, 2019; Mediani, 2020; Nadiyah, Briawan dan Martianto, 2014. Sedangkan untuk penelitian faktor-faktor pemberian nutrisi pada masa golden age dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dan negara berkembang secara sistematik review belum pernah dilakukan. Untuk itu, peneliti merasa penelitian sistematik review penting untuk dilakukan, guna mengetahui faktor-faktor pemberian nutrisi dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dan negara berkembang secara komprehensif sehingga diperoleh upaya pencegahan dan penanganan dampak stunting yang aplikatif dan efektif. METODOLOGI Merupakan sebuah penelitian sistematik review, menggunakan The Centre for Review and Dissemination and the Joanna Briggs Institute JBI Guideline sebagai panduan dalam menganalisa kualitas artikel. Penelusuran menggunakan Google Scholar, Proquest, Pubmed, Taylor and Francis, dan Plos One dengan kata kunci“nutrition practice, golden age, child under five year of age, stunting. Kriteria seleksi mengikuti format PEO. Population Ibu dengan anak stunting usia 0-59 bulan. Exposure pemberian nutrisi pada masa golden age. Outcome Stunting. Penelusuran dilakukan pada artikel yang diteliti tahun 2015-2020 di negara berkembang termasuk Indonesia. Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI 1768 Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52, 2021 Alur penyeleksian menggunakan PRISMA, sebanyak 28 artikel yang memenuhi kriteria kelayakan dianalisis secara desktiptif melalui naratif sintesis dalam mensintesis hasil artikel yang diperoleh. Artikel diperoleh dari berbagai negara yang termasuk kedalam negara berkembang yakni 17 artikel dari Indonesia, 1 artikel dari Kamboja, 2 artikel dari India dan Pakistan, 1 artikel dari Thailand, 1 artikel dari Cina, 1 artikel dari Urganda, dan 1 artikel dari Armenia, serta 4 artikel dari Ethiopia. Artikel tersebut diperoleh dari jurnal Plos One 3 artikel, dan dari database Pubmed 4 artikel, Proquest 3 artikel, dan Taylor and Francis 1 artikel, serta diperoleh juga dari search engine Google Schoolar 17 artikel. Untuk artikel penelitian yang paling banyak melibatkan responden adalah penelitian yang dilakukan Cetthakrikul et al., 2018 di Thailand dengan 7018 responden anak diatas 12 bulan, dan responden paling sedikit sebanyak 40 responden dalam penelitian Prabandari et al., 2017di Indonesia. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1. Bagan 1 Alur Penelitian Melalui Proses Seleksi HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Status Gizi Ibu hamil Status gizi ibu hamil menjadi tolak ukur kecukupan gizi janin selama didalam kandungan. Hal ini dikarenakan, pemenuhan nutrisi janin selama 270 hari didalam kandungan bergantung penuh pada asupan gizi ibu. Oleh karena itu, ibu harus mampu memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan demi tercapainya tumbuh kembang janin yang optimal. Hal tersebut, sesuai dengan hasil review dari penelitian Som et al., 2018, menunjukkan praktik pemenuhan makan pada ibu hamil yang tidak memenuhi standar dan tidak meningkatkan asupan makan selama kehamilan menjadi penyebab stunting di kamboja. Records identified through databases, search engines and journal searching n Additional records identified Records after duplicates removed n =1,230 assessed for eligibility n = 36 Full-text articles excluded, Studies include criteria n=28 Records excluded n = 75 Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52 2021 1769 Hasil tersebut sejalan dengan Situmeang et al., 2020; Alfarisi et al., 2019 dimana terdapat hubungan signifikan antara asupan energi dan asupan protein dengan kejadian stunting di Indonesia OR=0,215; OR=0,354, dan apabila ibu mengalami kekurangan energi kronis selama kehamilan akan melahirkan anak dengan risiko 2,2 kali lebih besar mengalami stunting. Berdasarkan literatur, pemenuhan nutrisi yang direkomendasikan pada ibu hamil dengan berat badan normal adalah mengkonsumsi 1800 kalori pada trimester pertama, 2200 kalori pada trimester kedua, dan 2400 kalori pada trimester ketiga. Serta diperlukan penambahan energi sebanyak 150 kalori dan protein 17 gr di trimester pertama. Pada trimester kedua penambahan energi meningkat menjadi 300 kalori, protein 17 gr pada trimester kedua dan Fe 9 mg. Sedangkan pada trimester ketiga penambahan kebutuhan energi masih sama yakni 300 kalori, protein 17gr, dan peningkatan Fe 13 mg. Serta dianjurkan mengkonsumsi asam folat 600 mcg, Vitamin B12 +0,2 ug, Ca +150 mg, dan serat >25 gr per hari selama kehamilan Damayanti et al., 2017. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi selama kehamilan, ibu dapat mengalami kekurangan asupan gizi yang apabila dibiarkan dapat mengakibatkan janin didalam kandungan lahir dengan manifestasi tubuh stunting. Penelitian terkait pemenuhan nutrisi janin dilakukan oleh Dhaded et al., 2020 Penelitian tersebut dilakukan pada komunitas miskin sumber daya di India dan Pakistan dengan memberikan suplemen zat besi-folat pada wanita usia subur dan ibu hamil pada trimester pertama. Hasil penelitian menunjukkan pemenuhan nutrisi prakonsepsi 3 bulan sebelum konsepsi dan pada trimester pertama dikaitkan dengan penurunan stunting sebanyak 44%. Hasil tersebut cukup rendah mengingat pemberian suplemen telah dilakukan 3 bulan sebelum konsepsi. Hal tersebut bisa saja terjadi karena rendahnya kemampuan ibu memperoleh makanan yang cukup gizi akibat keterbatasan ekonomi dan sumber daya. Sehingga, kebutuhan nutrisi janin hanya diperoleh dari suplemen zat besi-folat yang diperoleh selama penelitian berlangsung. Akibatnya, hanya 44% ibu yang diberikan suplemen zat besi-folat mulai dari 3 bulan prakonsepsi sampai trimester pertama yang melahirkan anak tanpa stunting, dan 56% lainnya memiliki anak stunting. Pada penelitian yang sama, Dhaded et al., 2020 menemukan bahwa pertumbuhan janin dapat dicapai dengan peningkatan asupan energi, protein, dan nutrisi mikro dari sebelum dimulainya trimester kedua kehamilan tanpa memerlukan intervensi lain p 0,05. Penelitian ini, hanya mengkaji riwayat KEK pada ibu hamil selama trimester 3, sedangkan riwayat di trimester sebelumnya tidak dikaji. Padahal, status gizi ibu hamil setiap trimester saling mempengaruhi. Sebelum memasuki trimester baru, tubuh ibu akan menyimpan cadangan energi untuk digunakan pada trimester selanjutnya. Sehingga, apabila ibu mengalami KEK pada trimester sebelumnya akan mengakibatkan ibu beresiko mengalami KEK di trimester selanjutnya, terlebih apabila kondisi tersebut tidak segera dikaji dan diperbaiki maka akan mengakibatkan ketidak cukupan energi yang penting untuk metabolisme dan pertumbuhan janin didalam kandungan. Dimana pada trimester ketiga, janin tumbuh menjadi dua kali panjang sebelumnya dan berat badan yang bertambah kurang lebih lima kali dari berat semula Damayanti et al, 2017; Kristiyanasari, 2010. Oleh sebab itu, kekurangan energi kronis selama Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI 1770 Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52, 2021 trimester tiga akan sangat berpengaruh dengan status gizi bayi terutama PB/U dan dapat mengakibatkan anak mengalami stunting. Faktor Pemberian IMD Setelah melalui 270 hari didalam kandungan, janin akan keluar dari rahim ibu melalui proses persalinan. Sesaat setelah proses tersebut, bayi harus segera diberikan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan tubuh bayi yang diberikan melalui IMD. Pemberian yang dilakukan sedini mungkin, membantu bayi mendapatkan kolostrum yakni baik untuk daya tahan tubuh dan asupan gizi, sehingga anak terhindar dari kejadian stunting. Menurut Angelina, Perdana dan Humairoh 2018 menunjukkan pemberian inisiasi menyusui dini pada balita usia 6-23 bulan berhubungan dengan kejadian stunting p = 0,010 dan OR 3,308 yang artinya anak tidak diberikan inisiasi menyusui dini akan berisiko 3,308 kali mengalami stunting dibandingkan anak yang diberi inisiasi menyusui dini. Begitu pula, Sentana, dan Hasan 2018 penelitian dengan OR sebesar 8,157 Demikian pula, Batiro et al., 2017 di Ethiopia Selatan yang menunjukkan pemberian inisiasi menyusui dini yang terlambat atau setelah satu jam kelahiran merupakan faktor determinan stunting dengan OR=5,16. Penelitian berbeda, Ahmad et al., 2018 di kota Aceh Indonesia yang menunjukkan inisiasi menyusui dini tidak berkaitan dengan kejadian stunting 0,530. Meskipun demikian, pada penelitian Ahmad et al., 2018 proporsi anak yang diberikan IMD namun tetap mengalami stunting sebanyak 47 26,2% dan anak yang tidak diberikan IMD dan mengalami stunting sebanyak 62 29,1%. Hal ini menunjukkan, meskipun hasil analisa data menyatakan tidak ada hubungan IMD dengan kejadian stunting, namun sebagian besar responden yang tidak memperoleh IMD mengalami stunting. Dengan demikian, pemberian IMD diidentifikasi sebagai faktor pemberian nutrisi yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dan negara berkembang. Pemberian ASI Eksklusif ASI merupakan makanan ideal yang mengandung asupan protein, membantu mempertahankan pertumbuhan dan memenuhi kebutuhan bayi, serta memberikan perlindungan terhadap infeksi gastrointestinal yang dapat menyebabkan malnutrisi kronis Koletzko, 2015. Pemberian ASI sebaiknya dimulai dari sejak lahir sampai usia 6 bulan. Hal ini didukung oleh penelitian Islam et al., 2018 India yang menunjukkan pemberian ASI eksklusif perlu ditingkatkan pada anak-anak, karena anak dapat mengalami peningkatan stunting sebanyak 24% pada usia 24 bulan yang dimulai sejak dilahirkan. Hasil review juga mengidentifikasi 5 penelitian yang menunjukkan pemberian ASI Eksklusif berhubungan dengan stunting pada balita di Indonesia dan Negara Berkembang. Julianti 2020 di Indonesia menunjukkan terdapat hubungan signifikan pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting p= OR= yang artinya anak yang diberikan ASI Eksklusif memiliki 2,28 kali kemungkinan untuk tidak mengalami stunting. Demikian pula, Dewi 2015, Lailatul & Ni’mah., 2015, Nugroho, 2016, dengan OR=3,7. Begitupun, Pandey & Singh 2016 di Distrik India Tengah menunjukkan tingginya kejadian malnutrisi terkait pemberian asi eksklusif dengan OR 2,50-6,53. Hasil review ini juga mengidentifikasi tiga penelitian yang tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya Ahmad et al., 2018; Komaruddin et al., 2019; Fekadu et al., 2015. Perbedaan hasil penelitian terkait pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting dikarenakan pada penelitian Komaruddin et al., 2019 sampel penelitian yang diberikan ASI eksklusif memiliki jumlah sampel kecil, meskipun pada hasil penelitian ini tidak ada kaitan dengan kejadia stunting, namun pada penelitian ini ditemukan bukti bahwa menyusui dikaitkan dengan penambahan berat badan dan rendahnya morbiditas stunting pada anak dan memiliki peran dalam pencegahan malnutrisi. Begitupun, Ahmad et al., 2018 yang menunjukkan bahwa anak yang diberikan ASI eksklusif mengalami stunting sebanyak 67 28% anak dan anak yang tidak diberikan ASI eksklusif sebanyak 42 27,6% anak, meskipun Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52 2021 1771 jumlah anak yang diberi ASI eksklusif lebih banyak yang mengalami stunting namun secara presentasi hanya terdapat perbedaan 0,4% pada anak stunting yang diberikan ASI eksklusif dan tidak eksklusif. Hasil review ini juga mengidentifikasi hubungan antara frekuensi menyusui dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dan Negara Berkembang. Penelitian Terati et al., 2018 di Indonesia menemukan ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan stunting p=0,002. Demikian pula, Tian et al., 2019 di Distrik Changsha China menemukan terhentinya pemberian ASI eksklusif setelah 3 bulan pemberian dan pemberian ASI eksklusif selama 3 bulan dan dilanjutkan pemberian susu formula dan makan pada memiliki tingkat kejadian stunting yang tinggi. Hal ini dikarenakan, pada saat usia 0-6 bulan ASI mampu memenuhi kebutuhan asupan gizi bayi. Sehingga, pemberian susu formula di usia 3 bulan akan mengurangi perlindungan yang didapat dari ASI eksklusif dan seluruh manfaat ASI yang telah diperoleh sebelumnya. Cetthakrikul et al., 2018 di Thailand menunjukkan, anak yang diberikan ASI eksklusif berkepanjangan yakni lebih dari 12 bulan pada keluarga miskin menjadi penyebab terjadinya stunting. Penelitian dilakukan pada komunitas keluarga miskin, dimana keluarga memiliki keterbatasan perekonomian, sehingga ibu kesulitan memberikan nutrisi yang sesuai kebutuhan anak. Oleh sebab itu, ibu hanya memberikan ASI saja selama 12 bulan. Sedangkan, ASI yang diberikan ibu juga kemungkinan tidak memiliki asupan gizi yang cukup. Pemberian ASI hanya mampu memenuhi kebutuhan asupan gizi anak sampai usia 6 bulan. Sedangkan setelah memasuki usia 6 bulan lebih, ASI tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, sehingga perlu diberikan makanan tambahan, dengan tetap diberikan ASI hingga usia 24 bulan atau lebih. Oleh sebab itu, pemberian ASI yang berkepanjangan dapat menyebabkan anak mengalami stunting. Hal ini sesuai dengan Julianti 2020 di Indonesia yang menunjukkan, anak yang tidak diberi ASI Eksklusif memiliki 40,9% risiko stunting. Begitupun, Mihrete 2018 di wiliyah Somali State, Ethiopia menunjukkan frekuensi menyusui pada bayi dapat mengurangi risiko bayi stunting. Sehingga, pemberian ASI eksklusif diidentifikasi sebagai salah satu faktor pemberian nutrisi yang berhubungan dengan kejadian stunting. Untuk itu, sebagai upaya pencegahan dan penanganan kondisi tersebut, penting untuk memperhatikan pemberian ASI sesuai dengan indikasi eksklusif. Pemberian MP-ASI Berdasarkan hasil review, pemberian ASI hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi sampai usia 6 bulan, sehingga pada bayi usia 6 bulan-24 bulan perlu dilakukan pemberian Makanan Pendamping ASI untuk mencukupi kebutuhan gizi anak. Hasil penelitian Bukusuba et al., 2017 di Uganda menunjukkan praktik pemberian makan pada bayi dan anak-anak atau infant and young child feeding IYCF yang kurang tepat p0,05. Sama seperti, Khasanah et al., 2016 di Indonesia menunjukkan waktu pertama kali pemberian makanan pendamping ASI berhubungan signifikan dengan kejadian stunting OR=2,867. Demikian pula, Mihrete 2018 di wiliyah Somali State, Ethiopia Faktor Pemberian Nutrisi Masa Golden Age dengan Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang DOI 1772 Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 52, 2021 menunjukkan pengenalan Makanan Pendamping ASI sebelum 6 bulan signifikan terhadap stunting. Pemberian makanan penamping ASI terlalu dini dapat menyebakan anak tidak memperoleh manfaat ASI eksklusif. Pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini yakni pemberian makan sebelum usia anak lebih dari 6 bulan dapat menyebabkan anak cepat merasa kenyang, namun kebutuhan asupan gizi yang seharusnya belum terpenuhi. Selain itu, anak akan malas untuk menyusu dan menyebabkan anak tidak memperoleh ASI. Padahal, ASI memiliki komposisi gizi yang lengkap, sehingga dapat membantu bayi terhindar dari malnutrisi, merangsang kecerdasan emosional dan fungsi otak maskimal Astutik, 2014; Maryunani, 2012. Hasil review ini juga mengidentifikasi, pemberian Makanan Pendamping ASI yang tidak memperhatikan frekuensi, tekstur, dan waktu pemberian makanan berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dan Negara Berkembang. Hal ini terlihat dari penelitian Nurdin et al., 2019 di Indonesia yang menunjukkan pemberian Makanan Pendamping ASI yang tidak memperhatikan frekuensi memiliki OR=3,90. Demikian pula, Pandey & Singh 2016 di Distrik India Tengah yang menunjukkan tingginya kejadian malnutrisi akibat kurangnya pemberian makan semi padat, dan pemberian Makanan Pendamping yang jarang dengan OR=3,01-8,39. Demikian pula, Ahmad et al., 2018 di Indonesia menunjukkan Pemberian makanan tambahan yang tepat waktu dan beragam berkaitan dengan kejadian stunting P=0,015. Selain itu, hasil review juga mengidentifikasi pemberian makanan pendamping ASI yang tidak memperhatikan variasi/keragaman makanan berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia dan Negara Berkembang. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Balalian et al., 2017 di Armenia, yang menunjukkan Anak usia 6-24 bulan yang diberikan Makanan Pendamping yang beragam memiliki peluang 72% lebih rendah untuk menjadi stunting p 3 kali dalam seminggu bukan merupakan faktor risiko kejadian stunting. Simpulan Faktor ibu yaitu pendidikan ibu, riwayat KEK, pola pemberian MPASI, dan pola asuh merupakan faktor risiko kejadian Asia has >50% of the global burden of low birth weight LBW. The objective was to determine the extent to which maternal nutrition interventions commenced before conception or in the 1st trimester improved fetal growth in this region. This was a secondary analysis of combined newborn anthropometric data for the South Asian sites India and Pakistan in the Women First Preconception Maternal Nutrition Trial. Participants were 972 newborn of mothers who were poor, rural, unselected on basis of nutritional status, and had been randomized to receive a daily lipid-based micronutrient supplement commencing ≥3 months prior to conception Arm 1, in the 1st trimester Arm 2, or not at all Arm 3. An additional protein-energy supplement was provided if BMIQianling TianXiao GaoTingting ShaYan YanObjective This study was aimed to examine the effect of feeding patterns on growth and nutritional status of children aged 0~24 months. Methods We conducted a cohort study with an initial sample of 927 children. Considering the follow-up losses, 903, 897, 895, 897, 883, 827 and 750 children were followed up at 1, 3, 6, 8, 12, 18 and 24 months, respectively. Children were grouped according to exclusive breastfeeding EBF duration in the first 6 months 1 never EBF; 2 EBF ≤ 3 months EBF ≤ 3 months and stopped BF after 3 months or EBF ≤ 3 months and BF = 6 months or EBF ≤ 3 months and BF after 3 months, had formula and/or solids; 3 EBF for 3 ~ 6 months BF 70% of the children were not meeting the minimum acceptable diet, and most of the women did not improve their diet during pregnancy. Inadequate nutrition during the first 1000 days is highly prevalent in Cambodia. A comprehensive national Mother, Infant and Young Child Nutrition strategy needs to be developed and operationalized to improve feeding practices of Cambodian women and SD SitumeangEtti Sudaryati Mira JumirahStunting is a chronic nutritional problem due to insufficient intake for a long time, in Indonesia the prevalence is high. The World Health Organization WHO classifies if the length/height z score is below −2 SD. The purpose of this study was to analyze the correlation between parenting, and nutrient intake energy and protein with stunting in children aged 24-59 years. This study used a cross sectional design with a sample of 117 children. Data collection was carried out with questionnaire instruments for parenting, and 24-hour food recall for nutritional intake. Data stunting was performed by comparing the height of the children measured by the WHO growth standards. Correlation analysis using Pearson correlation analysis. The results showed that the prevalence of stunting for children aged 24-59 months was There was a significant correlation between parenting with stunting r = and p = energy intake with stunting r = and p = and protein intake with stunting r = and p = It is recommended that the Ministry of Health improve nutrition surveillance programs, and encourage the community to monitor the growth of children under five years every month in health services.
Jika tangan atau kaki Anda belakangan sering terasa kram, kebas, kesemutan, nyeri, atau lemah otot, coba tengok kembali asupan vitamin Anda. Pasalnya, berbagai keluhan tersebut bisa menandakan gangguan saraf tepi akibat kekurangan vitamin neurotropik. Vitamin neurotropik adalah kelompok vitamin yang terdiri dari vitamin B1 tiamin, vitamin B6 piridoksin, dan vitamin B12 kobalamin. Masing-masing vitamin memiliki fungsi tersendiri, tapi ketiganya sama-sama penting bagi kesehatan sistem saraf. Apa itu vitamin neurotropik? Walaupun hampir semua vitamin dan mineral bermanfaat bagi kesehatan sistem saraf, vitamin neurotropik memiliki manfaat khusus bagi sistem ini. Berikut adalah sederet fungsinya bagi kesehatan saraf Anda 1. Vitamin B1 tiamin Orang dewasa di atas 14 tahun membutuhkan 1,3 mg vitamin B1 setiap harinya. Fungsi utama vitamin B1 adalah membantu sel mengubah karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi. Energi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menjalankan berbagai aktivitas seluruh sel pada tubuh. Terutama sel-sel otak dan sistem saraf. Sebagai vitamin neurotropik, vitamin B1 berfungsi sebagai pelindung dari kerusakan sekaligus mendukung aktivitas sel saraf. Kekurangan vitamin B1 akan menimbulkan gejala berupa kesemutan, rasa tertusuk atau terbakar pada lengan dan kaki, berkurangnya kemampuan refleks, serta tubuh jadi lesu. Anda bisa memenuhi kebutuhan vitamin B1 dengan mengonsumsi daging sapi, kacang-kacangan, beras, serta sayur-sayuran. Untuk mengoptimalkan asupan vitamin B1 harian, Anda pun dapat mengonsumsi suplemen atau makanan yang telah diperkaya dengan vitamin ini.
pemberian nutrisi pada sel saraf terjadi melalui